Demak,GN news.com – Puncak tradisi Grebeg Besar Demak kembali menarik perhatian ribuan masyarakat. Sejak Rabu (27/5/26), warga memadati sepanjang jalan dari Pendopo Kabupaten hingga Makam Sunan Kalijaga, sekitar 3 km, untuk menyaksikan prosesi sakral iring-iringan Prajurit Patang Puluhan yang mengawal perjalanan minyak jamas.
Sebelum kirab menuju Kadilangu, Bupati Demak Eisti’anah menyerahkan bokor berisi kembang setaman sebagai uborampe penjamasan kepada Ki Lurah Tamtomo. Bokor kemudian dibawa dengan pengawalan 40 prajurit pilihan menuju Kadilangu.
Bupati Eisti’anah bersama Forkopimda dan jajaran pejabat mengenakan pakaian adat Jawa, menaiki dokar hias, dan menyapa warga yang memadati sepanjang jalan.
Kepala Dinas Pariwisata Demak, Endah Cahya Rini, menekankan nilai budaya dan religius dari tradisi ini. “Iring-iringan Prajurit Patang Puluhan ini untuk memperkenalkan sejarah Wali Songo, Masjid Agung, Kadilangu, dan gerbang besar penyebaran Islam pertama di Jawa kepada generasi muda,” ujarnya.
Prosesi tidak hanya menampilkan prajurit, tetapi juga beragam pertunjukan seni, termasuk Pentas Adiluhung, Tari Tongkek, Parade Keris Sapujagad, Rebana Tanbihun, dan Drumband Mts Nurul Huda.
Kirab Prajurit Patang Puluhan telah menjadi ikon Grebeg Besar Demak, rutin digelar setiap 10 Dzulhijah. Tradisi ini menarik wisatawan dari berbagai daerah, termasuk Rakhim dari Jakarta yang datang sejak Selasa untuk mengikuti pengajian akbar dan Salat Idul Adha di Masjid Agung Demak.
Prosesi juga diakhiri dengan ziarah ke makam Sunan Kalijaga, serta penjamasan Kutang Ontokusumo dan Keris Kyai Crubuk di Kadilangu, menjaga warisan budaya dan religius yang terus dikenal masyarakat luas.
[Red@Adi].
