Oleh: Adi. Gatra Nusantara news. com. 
Wakil menteri komunikasi dan Digital(Wamenkomdigi). Nizar Patria. Saat dimimbar.
Minggu. 12.Juli.2026/18:57.WIB.
Jakarta, Gatra Nusantara news.com – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan peran humas kini tidak lagi sebatas penyampai informasi, tetapi harus menjadi penjernih informasi (clearing house of information) yang mampu menjaga kepercayaan publik di tengah derasnya arus disinformasi, misinformasi, dan perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Hal itu disampaikan Nezar saat membuka Kick Off Konvensi Humas Indonesia 2026 di Jakarta Pusat, Sabtu (11/7/2026).
"Peran humas menjadi sangat penting ketika noise dalam lanskap komunikasi semakin besar. Disinformasi, misinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian hadir begitu deras melalui perangkat digital yang setiap hari kita gunakan. Karena itu, humas harus mampu menjadi clearing house of information yang memastikan publik memperoleh informasi yang benar dan dapat dipercaya," ujarnya.
Menurut Nezar, dunia kini memasuki era post-truth, ketika batas antara fakta dan fiksi semakin kabur, sementara opini publik lebih mudah dipengaruhi sentimen dibandingkan fakta. Kondisi tersebut diperkuat oleh pesatnya penggunaan platform digital sebagai sumber utama masyarakat memperoleh informasi.
Ia juga mengutip kajian World Economic Forum yang menempatkan disinformasi dan misinformasi sebagai salah satu risiko global paling serius.
"Disinformasi bukan lagi persoalan komunikasi semata, tetapi sudah menjadi ancaman global. Karena itu, organisasi profesi seperti PERHUMAS memiliki posisi yang sangat strategis untuk membangun ekosistem informasi yang kredibel dan meningkatkan kualitas komunikasi publik," katanya.
Di sisi lain, Nezar menilai perkembangan AI membuka peluang besar bagi profesi humas untuk meningkatkan efektivitas komunikasi. Berdasarkan studi One Asia Communications tahun 2025, AI telah dimanfaatkan untuk analisis sentimen publik secara real time, menjaga konsistensi pesan, hingga memperkuat storytelling.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan nilai-nilai dasar dalam komunikasi.
"Teknologi dapat membantu menghasilkan konten dengan cepat, tetapi kepercayaan publik dibangun oleh integritas, empati, dan ketulusan. Sampai hari ini, AI masih belum mampu menghadirkan sincerity atau ketulusan yang menjadi unsur penting dalam komunikasi manusia," tegasnya.
Nezar juga menyoroti hadirnya teknologi agentic AI yang mulai mampu menjalankan berbagai fungsi kehumasan, mulai dari membaca data, menyusun strategi komunikasi, hingga membangun narasi secara otomatis selama 24 jam.
Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi tantangan bagi insan humas untuk terus meningkatkan kompetensi, menguasai teknologi AI, memperkuat kemampuan berpikir kritis, melakukan verifikasi informasi, memahami konteks sosial, serta menjaga etika komunikasi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan mesin.
Ia menambahkan, pemerintah di berbagai negara juga masih mencari formulasi terbaik dalam mengatur perkembangan AI melalui pendekatan regulasi yang adaptif maupun berbasis prinsip-prinsip seperti transparansi, akuntabilitas, keamanan, dan non-diskriminasi.
"Perkembangan AI berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan proses penyusunan regulasi. Karena itu, tata kelola AI membutuhkan keseimbangan antara regulasi yang adaptif dengan prinsip-prinsip etika yang kuat agar inovasi tetap berkembang tanpa mengorbankan kepentingan publik," ujarnya.
Menutup sambutannya, Nezar berharap Konvensi Humas Indonesia 2026 menjadi momentum memperkuat kapasitas profesi humas dalam menghadapi transformasi digital.
"Saya berharap Konvensi Humas Indonesia menjadi ruang untuk menjawab tantangan AI, memperkuat tata kelola teknologi dalam profesi humas, mengembangkan strategi Generative Engine Optimization (GEO), serta membangun narasi yang konstruktif agar Indonesia terus berbicara baik kepada dunia," pungkasnya.Sumber berita InfoPublik. id.